<

HIPERBOLA MATA 2

rasanya hanya desember perasa kali ini yang bakal datang
almanak tinggal selembar, anak-anak paku ingin sekali tinggalkan dinding

kau harus tahu, saudara, tembok itu pipi ibuku
memang lesung pipitnya tak tajam lagi untuk meruncingkan pensil hujan
tetapi kaki pelangi masih berbisik kepadanya sebelum melukai warna

bunda
aku semut api yang akan menimbun setiap neraka
dan, kalau boleh, semata wayang bagi susumu sepasang

SELAMAT PAGI

kuning kiwi matahari
dari kelabu tirai
kau kukelabui lagi

persis kupu-kupu netes
bisu tak bisu
atas batu es

kami bertengger
di serat leher
demi jus apel

tangan daunan patah semalam
meraih diam
haram kupinjamkan mata tongkat jam

karena hanya untukmu, selir
betah kucongkel
bulan kerikil

batam, 2008

Puisi Unik dan Otentik

Oleh: Andra S Kelana

UNIK. Mungkin itulah yang bisa saya ungkapkan untuk teman saya bernama Ramon Damora. Imajinasi yang tinggi, tampaknya diturunkan oleh sang guru puisi Riau almarhum Idrus Tintin kepada anak muridnya bernama Ramon Damora. Dalam kumpulan puisi ‘’Bulu Mata Susu’’, baitan kata yang dituangkan Ramon penuh dengan imajinasi yang memiliki nilai-nilai yang tinggi.

Saya mengutip komentar Sitok Srengenge, Sastrawan, Direktur Utan Kayu International Literary Biennale, Jakarta, yang termuat di blognya si pengarang ‘’Bulu Mata Susu’’ ; Ramon Damora, telah menyerahkan sebagian dirinya kepada kata. Lebih dari sekadar penanda yang penting perjalanan penyairnya, puisi-puisi yang terangkum dalam buku pertama lazim menunjukkan kecamuk yang kuat antara kehendak bertaut dengan, dan hasrat membebaskan diri dari, kemapanan tradisi.

Yang pertama bisa dibaca sebagai langkah peneguhan, dengan masuk ke arus utama, mengikuti konvensi, untuk menjadi bagian dari sistem nilai yang terakui. Seluruh Bulu Mata Susu ini mengisyaratkan bahwa penulisnya adalah seorang dari deret panjang penyair yang menggubah puisi bagaikan mengubah gerak menjadi tari. Transformasi semacam itu hanya dimungkinkan oleh kinerja kesadaran —tak melulu pikiran, tak cuma perasaan, sebab di sana terlibat pula panca indera, batin, dan naluri.

Begitulah si Ramon Damora, seorang ‘’pengelana’’ kata, yang terlahir dari sebuah kampung yang sudah tenggelam dan ditenggelamkan oleh pesatnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kotopanjang, Riau yang juga berakibat tenggelamnya kampung tempat kelahiran Ramon. Simbol kenangan Ramon terhadap kampung halamannya dituangkan dalam sebuah puisi; Muara Mahat.

sungai terpejam, lambai menajam
jatuh berderai ke dendam dalam
hutan titian, tuhan nan kaya, mengajal bara
masih awak tugal jejak puan
punai yang tumpah ke tanah
sebab jerebu merah
ada kampung berinsang patin
kami yang selalu sepasang pengantin
entah di pusar muara atau dasar belanga
arus apakah aus
aduh malaikat yang mengarak rakit di arasy air
biarkan tumbang, kasihlah banjir…

Dalam kumpulan puisi Bulu Mata Susu, si pengarang masih menggunakan paradok alamiah dan hewan, seperti hutan, punai. Dan simbol-simbol relegius, seperti Malaikat. Sebagai penyair, Ramon pandai sekali merangkai puisinya dengan tema-tema ironi. Karena ironi dalam sebuah puisi bila tidak hati-hati memilih puncak pembalik keadaan dari penceritaan yang sebelumya dianggap dan difahami sesuatu yang manis, baik, agung atau adiluhung, untuk kemudian dijungkirbalikkan menjadi yang sebaliknya seperti pahit, pedih, kotor, palsu, rendah atau nista sekalipun, tentu tidaklah mudah.

Ramon, tampaknya meramu puisinya dengan parodi yang menghentak jiwa si pembaca, namun akan memberi efek yang akan membekas lebih lama dalam fikiran pembaca. Paradok yang menghentak, tampaknya sudah menjadi karakter si pengarang. Begitu juga ketika dirinya berada di atas panggung untuk membacakan puisi, sangat menghentak. Gaya-gaya seperti ini, mengingatkan saya kembali kepada gurunya Idrus Tintin, yang cakap, koreograf, menari-nari ketika berada di atas panggung. Tidak dingin di atas panggung, seperti kebanyakan penyair lain menjadi ruh-ruh, ciri khas, trust-nya, sehingga terbawa juga dalam beberapa judul kumpulan sajaknya.

Selain itu ada juga beberapa judul puisi Bulu Mata Susu juga berhasil menghilangkan paradok, bahkan melahirkan ruh percintaan; seperti sajak Pada Soneta Tidurmu, Buta, yang masih berkutat soal cinta sebagai tema sentral yang kental dengan kecerdikan Ramon membungkusnya bersama citraan suasana penghematan kata dalam sebuah situasi yang menarik.

dengkurmu adalah tabiat puisi
memejam di luar gemuruh di dalam
izinkan kusingkirkan dahan ujan pagi
yang jatuh ke rumput mimpi, bibirmu diam

Pada penghujung tulisan ini, saya ingin menjelaskan bahwa, Ramon merupakan seorang penyair yang ‘keletah’ melakukan percobaan. Potensi Ramon dan karya-karyanya saya kira cukup menjanjikan. Ramon berani melepaskan ikatan bayang-bayang penyair pendahulunya yang saya rasakan sangat terasa sekali pada penyajian karya.

Seorang penyair mengungkapkan, bayang-bayang pendahulu bagaimanapun tentu tidak haram untuk dimunculkan pada sajak-sajak seseorang, karena kita hidup dalam lintasan sejarah dan interaksi yang ketat, akan tetapi bila hal itu dipakai terlalu banyak bukan tidak mungkin kita terjebak ke dalam sarang bersangkar emas milik orang lain yang kita pakai untuk memenjara diri kita sendiri bukan?

Selamat Ramon!

BENTAN

tanpa sampan aku bertamu
dengan nampan gelas-gelaskan laut
tetapi kau memilih hitam kopi tiam susut ke induk senja
tempat malam dan penyengat tak pernah remaja
bukan salahmu

lidah pelantar seperti sepoi teratur
terjulur menjilat terang luka unggun karang semenjana
sri bintanpura
daripada terumbu aku hanya ingin menjadi gingsul abu
di antara gigi-gigi hiu
yang mencerna tali lehermu

“kau pengikut atau pengecut?”

batam, 2008

PREMAN

lonceng waktu kecil bersubang di telingaku
depan cermin ia kiri yang pemalu
sehingga kanan ingin sekali melukainya

meski telah kurajah wajah ibuku
di setiap lenganmu
masih tak dapat kugendong airmatanya

suara darah rindu
satu pisau
itulah sebabnya

kalau mau membunuhku
dari belakang saja

batam, 2008

Misalkan Kita si Bulu Mata Susu

Oleh: Dobby Fachrizal

Kawan itu tentu hanya bergurau saja. “Aku nak nengok susu bebulu…” Celoteh kedai kopi itu terjadi saat buku kumpulan puisi “Bulu Mata Susu” dari Ramon Damora masih berbentuk janin.

Kini buku itu telah lahir dengan sehat dan selamat, lebih kurang dua minggu yang lalu di Pekanbaru. Kulitnya merah marun dengan mata indah seputih susu (sapi) segar yang dihiasi tujuh biji anak-anak mata yang ajaib, dan lentik bulunya seakan mengedipkan isyarat, bukalah aku, bacalah puisi-puisi itu. Pandainye die merayu, si “Bulu Mata Susu”.

Sayapun kene makan rayu buku itu. Meski harap-harap cemas sebab undang-undang pornograpi sudah disyahkan pula. Susu, bulu, bukankah kata yang sangat rentan bila dipadankan dengan beberapa kata tertentu? kata yang dapat mengesankan pornograpi, yang bisa bikin orang ngeres atau naik syahwat. Resiko melanggar undang-undang itu saya ambil untuk menulis catatan kecil ini, demi Puisi.

Ada 48 buah puisi dalam buku ini. Puisi yang didominasi tahun penulisan 2007-2008, hanya ada dua buah puisi yang ditulis pada tahun 2002 dan 2003. Selebihnya adalah puisi-puisi terkini dari sang penyair. Dan bagi yang lemah jantung janganlah membukanya barang sehalaman pun. Saya selalu hampir saja terloncat dari kursi setelah membaca beberapa puisi di sini. Berlebihan? silahkan bukti sendiri, tapi resiko gagal jantung saya lepas tangan.

Salah satu daya pikat puisi adalah kejutan-kejutan kata yang “bersembunyi” pada bait -baitnya. Kalau dalam pengantarnya Sitok Srengenge menyebut pesona dan persona kata, saya mengistilahkan kejutan kata-kata. Daya kejut itulah kadang selalu membuat orang-orang ketagihan menikmati puisi. Tak sembarangan orang yang mampu melakukan itu, menulis puisi-puisi seperti itu. Orang-orang tertentu saja, orang yang dianugerahi bakat alam. Dan begitu pukimaknya, Ramon Damora memiliki bakat langka itu. Ia sungguh sangat lihai mengejutkan kita dengan segala “tahiminyak”nya. Mungkin bila ingin bermain-main mencari sebuah kredo dalam puisi-puisi seorang penyair, bolehlah pada kumpulan puisi ini kita melahirkan istilah baru: “kredo tahiminyak”. Sepertinya pepatah buah apel yang jatuh tak jauh dari pohonnya, berlaku juga di sini, tuan puan bisa artikan sendiri, tabiat orangnya tak jauh dari tabiat puisi-puisinya. “Tahiminyak”.

Saya ambil empat penggalan bait di antara puisi-puisi di “Bulu Mata Susu” yang mengejutkan itu:

ubun-ubunmu lembut manisan tebu
kesemutan aku dikepit kepangmu

(sajak ketombe)

aku curi lampu-lampu malam anakmu berak di rembulan
kuburu jejak kijang jantan anakmu mengencingi hutan

(kepada kartini)

dari mayat menit, bangkai air yang dipanaskannya kembali

(jam baru)

lolong kangen sepanjang anjing di dinding
jelanglah pagi berperigi kupu-kupu gading

(puan kaca)

Seringkali, bagi kita (pembaca awam yang terkutuk ini) ketika berhadap-hadapan dengan sebuah puisi selalu melontarkan pertanyaan menjemukan, itu-itu juga: Apa arti puisi ini? Apa sih maksudnya? Arti, maksud, tujuan, dan semuanya itu memang tak bisa dipisahkan dalam hidup yang kian pragmatis. Boleh-boleh saja kita bertanya tentang itu, bahkan ikhlas berpeluh hati demi memaknai sebuah puisi. Tapi celakanya, banyak di antara kita tidak ingin berpeluh-peluh, tidak ingin sedikit merenung, dikungkung budaya malas berpikir. Kita selalu ingin serba praktis, termakan gaya hidup yang serba “instant”.

Puisi (yang baik) tidak untuk dinikmati secara instant seperti kita menikmati produk-produk budaya massal seperti musik pop atau dangdut.

Memang banyak puisi-puisi instant (dengan berbagai niat atau motivasinya) yang lahir dan lalu-lalang temberang di hadapan kita. Tapi seperti benda-benda instant lainnya, puisi seperti itu juga cepat dikunyah tapi cepat pula dikeluarkan dari perut bersama “kawan-kawannya” di pagi hari.

Dalam “Bulu Mata Susu” jangan harap kita akan menemukan puisi-puisi yang bisa dinikmati sekali lalu. Kita harus memposisikan diri sebagai seorang peminum anggur yang ulung agar mampu meresapi kenikmatan 48 buah puisi Ramon Damora. Menyesapnya harus dengan perlahan, dengan segenap perasaan niscaya kenikmatan itu akan terasa, tak bisa dengan tergesa. Jika lidah kita terbiasa dengan teh botol, atau minuman keras oplosan sebaiknya janganlah coba-coba nak begaye.

bulu matamu
dahului kematianku
sepasang bacardi membakar diri
peparumu, pepuraku
puntung kunang terangi
pokok cerutu


(Sesat di Hunsestraat)

Penggalan barisan dalam sajak Sesat di Hunsestraat Itu tak serta merta bisa ditangkap maksudnya. Tak bisa sekali tenggak. Kita sebagai pembaca (yang baik) hanya bisa merasakan keindahannya. Kalau ingin lebih dalam, kita harus tekun membaca utuh sebuah puisi berulang-ulang lalu membedah frasa-frasa yang lahir dari perkawinan kata setiap bait-baitnya, menghubung-hubungkannya dan syukur-syukur bisa mengambil maknanya. Tidak mudah memang, tapi percayalah itu mengasyikan. Banyak orang yang ketagihan akan puisi disebabkan kegilaan seperti itu. Bila tidak juga telah yakin menemukan maksudnya, pun tak mengapa, toh kita hanya sebagai penikmat. Menikmati keasyikan yang disajikan penyair. Penikmat anggur bukanlah pembuat anggur. Nikmati saja bait demi bait, asalkan kita tahu cara menikmatinya dengan benar. Asalkan kita bukan seorang penikmat asal-asalan.

Hampir semua puisi-puisi pada buku ini mengambil jalan “lirik-isme”. Puisi yang hanya terasa benar nikmatnya ketika engkau duduk sendiri di kamar saat orang-orang lain telah lelap dalam buai mimpi, saat hanya ada suara jangkrik yang sibuk bercinta dan rembulan yang gila itu bertengger di jendela.

Ramon Damora menakik, meracik, membedah, memiuh, menyuntuki, mengangkangi, dan menyetubuhi barisan kata-kata dengan ketat, intens, mengawinkan ketidaklaziman, lalu menciptakan keindahannya yang permai . Kelebihan yang lain adalah kefasihannya menempatkan kosa-kata melayu pada drajat tertinggi dalam puisi-puisinya. Kata-kata melayu yang berada dalam “Bulu Mata Susu” tentulah sangat bergembira hati hadir di sana. Jerebu, kepunan, renjis, rehal, ceguk, lucah, tabik, surai adalah beberapa contoh di antaranya. Ketika masa-masa kini kita dibombardir oleh kata-kata asing , dan kata-kata gaul anak muda, di mana lagi kita sering menemukan kata-kata itu? Museum kata? Kehadiran kata-kata khazanah lama dalam puisi-puisinya sunguh menyegarkan lahir batin kita.

Perhatian pada kehidupan puisi kita memang masih jauh dari harapan, memerihkan, puisi-puisi masih selalu tersisih di pojok-pojok sepi, hampir sekarat di tengah masyarakat yang kian dangkal memahami karya seni, masyarakat yang lebih suka menyembah gaya hidup dengan segala produk-produk pop-nya, (benda-benda yang cantik namun tolol itu), lebih suka mengunyah seni-seni “cepat saji”. Puisi masih menggigil kesepian di tengah masyarakat yang menyanjung konsumerisme. Kita ditelan mentah-mentah program bodoh televisi, diperbudak monster-monster iklan.

Kelahiran “Bulu Mata Susu” setidaknya dapat memberi setiup napas baru bagi nyawa puisi yang megap-megap itu.

Bila ingin menyamakan dengan sebuah album musik yang baru rilis, boleh kiranya saya memilih lima puisi yang bisa menjadi “hits” pada “Bulu Mata Susu”. Niscaya “album” ini akan meledak laris manis di tengah serbuan band-band cengeng anak muda masa kini.

Lima “hits” sebagai pembuka jalan untuk “didengarkan” ke khalayak ramai itu adalah Puan Kaca, Sketsa, Check in (1), Nun, dan Mammography. Layak disematkan 4 bintang kepada “Bulu Mata Susu”.

Bulu Mata Lela

Pekan silam (28/10) buku kumpulan puisi pertama saya, Bulu Mata Susu, lahir. Yayasan Sagang, sang penerbit, meluncurkannya di Hotel Ibis, Pekanbaru. Ketika replika Bulu Mata Susu ditampilkan ke atas panggung dan ditandatangani sejumlah undangan (yang saya ingat di antaranya CEO Riau Pos Grup Rida K Liamsi, Rektor UIN Suska HM Nazir, tokoh masyarakat Ismail Suko) hati saya  tak menentu. Bahagia, sudah pasti. Tapi yang lebih terasa malam itu adalah ingatan yang terus-menerus menjalar ke Batam: ke wajah istri saya.

Sebelas tahun yang lalu, siapa di antara kami yang memulai menyebut kata cinta? Tak satu pun. Saya “anak hilang” di rumah. IAIN Suska Pekanbaru pada 1997 itu menjadi kampus lahir-batin bagi saya. Rumah yang paling rumah. Makan, tidur, buang hajat, teriak-teriak, berteater, mengelola surat kabar mahasiswa. Siang dan malam. Lalu anak ini datang menawarkan persahabatan. Tahu kos-kosannya hanya sebelok jalan di samping kampus kami, saya pun bertandang.  Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Saya menagih oleh ketulusan hati dan pertemanannya.

Sekian tahun kami bersahabat. Terlalu telat bagi saya untuk menyadari bahwa diam-diam dia telah menjadi semacam kebutuhan dalam proses kreatif saya. Dulu saya belum akan mengirimkan naskah-naskah sajak ke media massa sebelum ia membacanya. Saya juga belum ingin meresitalkan puisi atau berlakon di panggung bersama teater kampus tempat saya bermain, sebelum pamer di hadapannya.

Lalu kami terpisah oleh jarak. Benar-benar terpisah. Bersama jalan kehidupan masing-masing. Ia mengabdi sebagai guru di kampung halamannya di Tembilahan, Riau. Saya bekerja sebagai wartawan di Batam, Kepri. Tapi saya tahu sayalah yang harus memulai. Cinta tak pernah salah, bukan?

Kami menikah tanggal 15 Februari 2003. Sehari setelah Valentine, sehari sebelum Idul Adha.  Malam ketiga selepas pesta, ia tunjukkan map tebal itu. “Ini, mungkin Abang sudah lupa. Tapi Lela mengklipingnya. Sajak-sajak Abang di koran. Lumayan banyak juga. Lela simpan lagi ya,” katanya. Ah, susah untuk menjelaskan betapa tololnya senyuman saya waktu itu.

Lela. Nurlelawati nama lengkapnya. Bintang Sagitarius. Tuhan mengirimkannya untuk saya sebagai kliping terindah, karena saya bangga bisa menemaninya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Malam itu, seminggu yang lalu, justru ketika sebagian dari buah kesabarannya terkumpul dalam buku pertama saya, ia tidak bisa ikut serta mendampingi saya ke Pekanbaru. Dokter melarangnya bepergian untuk sementara waktu karena janin anak kami telah berusia 8 bulan di kandungannya.

Kepada awak, Lela, Bulu Mata Susu ini saya persembahkan.

Menuju Bulu Mata Susu (4)

Seorang lagi, Ramon Damora, telah menyerahkan sebagian dirinya kepada kata. Dan hasilnya adalah pesona dan persona yang terpencar dalam, dan terpancar dari, 48 puisi penghuni Bulu Mata Susu ini.

Lebih dari sekadar penanda yang penting perjalanan penyairnya, puisi-puisi yang terangkum dalam buku pertama lazim menunjukkan kecamuk yang kuat antara kehendak bertaut dengan, dan hasrat membebaskan diri dari, kemapanan tradisi.

Yang pertama bisa dibaca sebagai langkah peneguhan, dengan masuk ke arus utama, mengikuti konvensi, untuk menjadi bagian dari sistem nilai yang terakui. Sedangkan yang kedua sebagai penolakan, sebisa-bisa menghindar dari ke-biasa-an, juga dari tertib yang baku dan mungkin beku—semacam identifikasi gagasan dan ungkapan demi pencapaian ekspresi yang personal, unik dan otentik.

Seluruh Bulu Mata Susu ini mengisyaratkan bahwa penulisnya adalah seorang dari deret panjang penyair yang menggubah puisi bagaikan mengubah gerak menjadi tari. Transformasi semacam itu hanya dimungkinkan oleh kinerja kesadaran —tak melulu pikiran, tak cuma perasaan, sebab di sana terlibat pula panca indera, batin, dan naluri.

Sebuah totalitas diri yang imbang, padu, dan harmoni, dalam menerima dan memberi…

Sitok Srengenge, Sastrawan, Direktur Utan Kayu International Literary Biennale, Jakarta

ISTRIKU FITRI

lebaran kemarin lebat sehujan-hujannya
rumput airmata basah lagi, lumpur mengangsur tanah
istriku terang, sewajah jendela, karena tempias sepi
kami pulang tiada, kampung halaman masih berkelok mimpi
daun kelapa menjahit lukanya semalam jadi ketupat gulai ayam
aku besarkan suara takbir dari radio dalam-dalam

Semangat Syawal

Hari ini mulai dari nol lagi. Kolesterol, hati-hati. Finansial tekor, kasih bandrol senyum abadi. Yang penting berusaha tidak tampak tolol di mata Tuhan, iya kan? Mohon maaf kiri dan kanan. Rayakan cinta, rayakan…