Pekan silam (28/10) buku kumpulan puisi pertama saya, Bulu Mata Susu, lahir. Yayasan Sagang, sang penerbit, meluncurkannya di Hotel Ibis, Pekanbaru. Ketika replika Bulu Mata Susu ditampilkan ke atas panggung dan ditandatangani sejumlah undangan (yang saya ingat di antaranya CEO Riau Pos Grup Rida K Liamsi, Rektor UIN Suska HM Nazir, tokoh masyarakat Ismail Suko) hati saya tak menentu. Bahagia, sudah pasti. Tapi yang lebih terasa malam itu adalah ingatan yang terus-menerus menjalar ke Batam: ke wajah istri saya.
Sebelas tahun yang lalu, siapa di antara kami yang memulai menyebut kata cinta? Tak satu pun. Saya “anak hilang” di rumah. IAIN Suska Pekanbaru pada 1997 itu menjadi kampus lahir-batin bagi saya. Rumah yang paling rumah. Makan, tidur, buang hajat, teriak-teriak, berteater, mengelola surat kabar mahasiswa. Siang dan malam. Lalu anak ini datang menawarkan persahabatan. Tahu kos-kosannya hanya sebelok jalan di samping kampus kami, saya pun bertandang. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Saya menagih oleh ketulusan hati dan pertemanannya.
Sekian tahun kami bersahabat. Terlalu telat bagi saya untuk menyadari bahwa diam-diam dia telah menjadi semacam kebutuhan dalam proses kreatif saya. Dulu saya belum akan mengirimkan naskah-naskah sajak ke media massa sebelum ia membacanya. Saya juga belum ingin meresitalkan puisi atau berlakon di panggung bersama teater kampus tempat saya bermain, sebelum pamer di hadapannya.
Lalu kami terpisah oleh jarak. Benar-benar terpisah. Bersama jalan kehidupan masing-masing. Ia mengabdi sebagai guru di kampung halamannya di Tembilahan, Riau. Saya bekerja sebagai wartawan di Batam, Kepri. Tapi saya tahu sayalah yang harus memulai. Cinta tak pernah salah, bukan?
Kami menikah tanggal 15 Februari 2003. Sehari setelah Valentine, sehari sebelum Idul Adha. Malam ketiga selepas pesta, ia tunjukkan map tebal itu. “Ini, mungkin Abang sudah lupa. Tapi Lela mengklipingnya. Sajak-sajak Abang di koran. Lumayan banyak juga. Lela simpan lagi ya,” katanya. Ah, susah untuk menjelaskan betapa tololnya senyuman saya waktu itu.
Lela. Nurlelawati nama lengkapnya. Bintang Sagitarius. Tuhan mengirimkannya untuk saya sebagai kliping terindah, karena saya bangga bisa menemaninya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Malam itu, seminggu yang lalu, justru ketika sebagian dari buah kesabarannya terkumpul dalam buku pertama saya, ia tidak bisa ikut serta mendampingi saya ke Pekanbaru. Dokter melarangnya bepergian untuk sementara waktu karena janin anak kami telah berusia 8 bulan di kandungannya.
Kepada awak, Lela, Bulu Mata Susu ini saya persembahkan.

semoga anak Bang Ramon lahir dengan selamat, mungkin itu nanti itu sebagai bulu mata susu part 2
Salam!!
Aduhh..romantis sekali pak ramon ini… selamat ya pak atas peluncuran bulu mata Lela tu.. semoga bukunya laris..ris..ris… amiinnn
terimakasih BDIB. yakinlah, bulu mata susu never ending hehe
lala, namanya kok rada-rada mirip ya. bulu mata lala aja ah…
saya tersentuh sekali dgn ceritamu. aku pikir itulah alasan engkau menulis “sejak sajak mengajakmu.” mengaggumkan.
terimakasih, steven. engkau anak muda yang berlidah jernih. mestilah hatimu bening.
aku tunggu perjumpaan kita. hahaha.
hahaha, ternyata cinta juga yang mengajakmu bersajak abang ku
jangan lupa ke musi yah…
salam hangat
sehangat air musi di waktu pagi
sekarang makamnya udah beda ko: sajak yang mengajak cinta hehe
Kemarin Fitri
Sekarang mau Lela
Kali ini gak bisa … bang
Walau hanya bulu mata pun
karena Lela miliku
Lela yang punya Melani
ya … Lela Melani
bang Ramon dan mbak Lela, pasangan sejiwa, semoga sampai akhir hayat ya. Semoga di kecil dalam kandungan senantiasa sehat .
Cinta tak pernah salah? Sepakat……..!!!