• rumahati

    Posted on November 4th, 2008

    Written by Ramon

    Tags

    Pekan silam (28/10) buku kumpulan puisi pertama saya, Bulu Mata Susu, lahir. Yayasan Sagang, sang penerbit, meluncurkannya di Hotel Ibis, Pekanbaru. Ketika replika Bulu Mata Susu ditampilkan ke atas panggung dan ditandatangani sejumlah undangan (yang saya ingat di antaranya CEO Riau Pos Grup Rida K Liamsi, Rektor UIN Suska HM Nazir, tokoh masyarakat Ismail Suko) hati saya tak menentu. Bahagia, sudah pasti. Tapi yang lebih terasa malam itu adalah ingatan yang terus-menerus menjalar ke Batam: ke wajah istri saya.

    Sebelas tahun yang lalu, siapa di antara kami yang memulai menyebut kata cinta? Tak satu pun. Saya “anak hilang” di rumah. IAIN Suska Pekanbaru pada 1997 itu menjadi kampus lahir-batin bagi saya. Rumah yang paling rumah. Makan, tidur, buang hajat, teriak-teriak, berteater, mengelola surat kabar mahasiswa. Siang dan malam. Lalu anak ini datang menawarkan persahabatan. Tahu kos-kosannya hanya sebelok jalan di samping kampus kami, saya pun bertandang. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Saya menagih oleh ketulusan hati dan pertemanannya.

    Sekian tahun kami bersahabat. Terlalu telat bagi saya untuk menyadari bahwa diam-diam dia telah menjadi semacam kebutuhan dalam proses kreatif saya. Dulu saya belum akan mengirimkan naskah-naskah sajak ke media massa sebelum ia membacanya. Saya juga belum ingin meresitalkan puisi atau berlakon di panggung bersama teater kampus tempat saya bermain, sebelum pamer di hadapannya.

    Lalu kami terpisah oleh jarak. Benar-benar terpisah. Bersama jalan kehidupan masing-masing. Ia mengabdi sebagai guru di kampung halamannya di Tembilahan, Riau. Saya bekerja sebagai wartawan di Batam, Kepri. Tapi saya tahu sayalah yang harus memulai. Cinta tak pernah salah, bukan?

    Kami menikah tanggal 15 Februari 2003. Sehari setelah Valentine, sehari sebelum Idul Adha. Malam ketiga selepas pesta, ia tunjukkan map tebal itu. “Ini, mungkin Abang sudah lupa. Tapi Lela mengklipingnya. Sajak-sajak Abang di koran. Lumayan banyak juga. Lela simpan lagi ya,” katanya. Ah, susah untuk menjelaskan betapa tololnya senyuman saya waktu itu.

    Lela. Nurlelawati nama lengkapnya. Bintang Sagitarius. Tuhan mengirimkannya untuk saya sebagai kliping terindah, karena saya bangga bisa menemaninya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Malam itu, seminggu yang lalu, justru ketika sebagian dari buah kesabarannya terkumpul dalam buku pertama saya, ia tidak bisa ikut serta mendampingi saya ke Pekanbaru. Dokter melarangnya bepergian untuk sementara waktu karena janin anak kami telah berusia 8 bulan di kandungannya.

    Kepada awak, Lela, Bulu Mata Susu ini saya persembahkan.

    This entry was posted on Tuesday, November 4th, 2008 at 2:57 am and is filed under rumahati. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
  • 12 Comments

    Take a look at some of the responses we've had to this article.

    1. Posted on November 4th

      semoga anak Bang Ramon lahir dengan selamat, mungkin itu nanti itu sebagai bulu mata susu part 2 :D

      Salam!!

    2. Posted on November 4th

      Aduhh..romantis sekali pak ramon ini… selamat ya pak atas peluncuran bulu mata Lela tu.. semoga bukunya laris..ris..ris… amiinnn

    3. Posted on November 4th

      terimakasih BDIB. yakinlah, bulu mata susu never ending hehe

    4. Posted on November 4th

      lala, namanya kok rada-rada mirip ya. bulu mata lala aja ah…

    5. Posted on November 4th

      saya tersentuh sekali dgn ceritamu. aku pikir itulah alasan engkau menulis “sejak sajak mengajakmu.” mengaggumkan.

    6. Posted on November 5th

      terimakasih, steven. engkau anak muda yang berlidah jernih. mestilah hatimu bening.

    7. Posted on November 5th

      aku tunggu perjumpaan kita. hahaha.

    8. Eko
      Posted on November 6th

      hahaha, ternyata cinta juga yang mengajakmu bersajak abang ku

      jangan lupa ke musi yah…

      salam hangat
      sehangat air musi di waktu pagi

    9. Posted on November 6th

      sekarang makamnya udah beda ko: sajak yang mengajak cinta hehe

    10. Posted on November 7th

      Kemarin Fitri
      Sekarang mau Lela :D

      Kali ini gak bisa … bang
      Walau hanya bulu mata pun
      karena Lela miliku
      Lela yang punya Melani
      ya … Lela Melani

    11. Posted on November 8th

      bang Ramon dan mbak Lela, pasangan sejiwa, semoga sampai akhir hayat ya. Semoga di kecil dalam kandungan senantiasa sehat .

    12. Posted on November 12th

      Cinta tak pernah salah? Sepakat……..!!!

  • Post a Comment

    Let us know what you thought.

  • Name:

    Email (required):

    Website:

    Message: