<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>ramon damora</title>
	<atom:link href="http://ramondamora.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ramondamora.com</link>
	<description>sejak sajak mengajakmu...</description>
	<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 13:45:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Terimakasih, Yanti&#8230;</title>
		<link>http://ramondamora.com/terimakasih-yanti</link>
		<comments>http://ramondamora.com/terimakasih-yanti#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 13:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramon</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[rumahati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ramondamora.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Terimakasih Yanti. Sesuai janjimu, kau datang lagi ke Batam hari ini. Anakku menanyakanmu terus. Sudah cinta berat dia nampaknya sama kau. Aku sebenarnya mau dengar lebih banyak ceritamu tentang lelaki pilihan orangtuamu itu. Tapi nanti sajalah ya. Yang penting, aku bahagia kau sudah bertunangan. Kuharap, kau tidak menganggapku majikan yang brengsek karena hanya mengizinkanmu pulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Terimakasih Yanti. Sesuai janjimu, kau datang lagi ke Batam hari ini. Anakku menanyakanmu terus. Sudah cinta berat dia nampaknya sama kau. Aku sebenarnya mau dengar lebih banyak ceritamu tentang lelaki pilihan orangtuamu itu. Tapi nanti sajalah ya. Yang penting, aku bahagia kau sudah bertunangan. Kuharap, kau tidak menganggapku majikan yang brengsek karena hanya mengizinkanmu pulang kampung untuk pertunanganmu itu, tiga hari saja. Apa daya kami, Yanti? Aku bekerja, istriku bekerja, hanya agar hidup yang keras ini bisa melunak sedikit. Agar anak kami bisa beroleh pendidikan yang pantas kelak. Itu cita-cita sederhana  setiap orangtua, bukan? Makanya kami sangat bahagia kau mau mengasuh anak kami. Menjadi sahabatnya ketika kami, laki-bini, sudah berhamburan pagi-pagi sekali ke luar rumah: menyongsong matahari, menyembunyikan airmata. Jadi, selamat datang kembali ke rumah ini, Yanti. Rumah kau juga. Peduli setan kau mau bersih-bersih atau tidak di rumah ini. Piring kotor, cucian menumpuk, rak bukuku berantakan, peduli amat. Yang penting kau sayangi anakku. Temani selalu langkah-langkah putihnya itu. Itu saja. Kalau kau sakiti dia, aku korankan kau!</p></blockquote>
<p><strong>In action, in colour, in heaven: </strong>Yanti (baju putih), Lela biniku (biru dongker; makin bunting kok makin cantik dia ya? ), aku (hitam manis hehe), Jilan (baju tidur)&#8230;</p>
<p><a href="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_14521.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-192" title="img_14521" src="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_14521-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_1464.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-193" title="img_1464" src="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_1464-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_1475.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-194" title="img_1475" src="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_1475-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_1463.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-195" title="img_1463" src="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_1463-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_1461.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-196" title="img_1461" src="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_1461-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_1456.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-197" title="img_1456" src="http://ramondamora.com/wp-content/uploads/2008/12/img_1456-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ramondamora.com/terimakasih-yanti/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mereka Menyebut Roland Barthes dalam Sajak Saya</title>
		<link>http://ramondamora.com/mereka-menyebut-roland-barthes-dalam-sajak-saya</link>
		<comments>http://ramondamora.com/mereka-menyebut-roland-barthes-dalam-sajak-saya#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 15:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramon</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[membaca]]></category>

		<category><![CDATA[roland barthes]]></category>

		<category><![CDATA[sitok srengenge]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ramondamora.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Ada teori Roland Barthes dalam sajak-sajak saya. Yang pertama menelisiknya adalah Sitok Srengenge. Tetapi seseorang bernama Thowik Anwari menyanggahnya. Asyik.
Sitok Srengenge menulis perihal Barthes itu untuk buku puisi pertama saya, Bulu Mata Susu. Dalam sebuah milis Apresiasi Sastra, Thowik sepertinya hendak mencoba &#8220;meluruskan&#8221; teori Roland Barthes yang disinggung Sitok tersebut. Begini katanya dalam satu surat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ada teori Roland Barthes dalam sajak-sajak saya. Yang pertama menelisiknya adalah Sitok Srengenge. Tetapi seseorang bernama Thowik Anwari menyanggahnya. Asyik.<span id="more-187"></span></p></blockquote>
<p>Sitok Srengenge menulis perihal Barthes itu untuk buku puisi pertama saya, <em>Bulu Mata Susu</em>. Dalam sebuah milis Apresiasi Sastra, Thowik sepertinya hendak mencoba &#8220;meluruskan&#8221; teori Roland Barthes yang disinggung Sitok tersebut. Begini katanya dalam satu surat elektronik kepada saya:</p>
<p><em>maaf bung,<br />
</em></p>
<p><em>roland barthes menyebutnya expression (plane) &amp; content (plane) &#8211;yang dapat dikaitkan dengan neologismenya, lisible dan scriptible. jadi, bukan expression dan &#8220;contenu&#8221;. oleh umberto eco keduanya mempunyai turunan: expression-type dan content-type.</em></p>
<p><em>salut,<br />
thowik</em></p>
<p>Siapa Roland Barthes, saya juga tak paham-paham amat. Tapi di sanalah keasyikan menulis sajak. Tanpa kita sadari, ia menjadi jendela bagi lalu-lalang sebuah pemikiran yang kadang malah membuat kita tertegun, tak percaya: ooh, rupanya&#8230;</p>
<p>Baiklah saya kutipkan saja dengan lengkap artikel haru-biru dari Sitok Srengenge ini. Semoga berkenan.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">MERENGKUH RUH, MEMBERI TUBUH</span><br />
<span style="font-weight: bold; font-style: italic;"><br />
Oleh: Sitok Srengenge</span></p>
<p>Seorang lagi, Ramon Damora, telah menyerahkan sebagian dirinya kepada kata. Hasilnya adalah pesona dan persona yang terpencar dalam, dan terpancar dari, 48 puisi penghuni buku Bulu Mata Susu.</p>
<p>Lebih dari sekadar penanda yang penting perjalanan penyairnya, puisi-puisi yang terangkum dalam buku pertama lazim menunjukkan kecamuk yang kuat antara kehendak bertaut dengan, dan hasrat membebaskan diri dari, kekukuhan tradisi. Yang pertama bisa dibaca sebagai langkah peneguhan, dengan masuk ke arus utama, mengikuti konvensi, untuk menjadi bagian dari sistem nilai yang terakui. Sedangkan yang kedua sebagai penolakan, sebisa-bisa menghindar dari ke-biasa-an, juga dari tertib yang baku dan mungkin beku—semacam identifikasi gagasan dan ungkapan demi pencapaian ekspresi yang personal, unik dan otentik.</p>
<p>Pun kita bisa menghadapi kumpulan puisi ini sebagai pewarta yang baik, yang datang dari generasi baru kesusastraan Indonesia, dari masa ketika hasrat penemuan dan gairah pemberontakan tak lagi dipandang sebagai hal yang menakjubkan. Generasi baru ini lebih menyadari bahwa kreativitas tak berpaut dengan eksentrisitas tampilan atau ekstrimitas tindakan, sebagaimana kerap ditunjukkan sejumlah pendahulu pada tiga-empat dekade lalu.</p>
<p>Dalam tradisi penulisan sastra di negeri ini bisa kita temukan pandangan yang menganggap puisi semata-mata terkait dengan pikiran atau perasaan. Pandangan seperti itu melandasi sikap para penyair yang memperlakukan puisi ibarat sekubang keranjang, tempat sampah gagasan yang seolah besar namun kerap tak mendasar; atau menjadikan puisi layaknya bejana bagi luapan emosi yang sering kali tak terkendali. Penyair tampil sebagai si perkasa dengan egosentrisme yang dijadikan fokus utama penciptaan, sementara puisi hanya instrumen penghantar pikiran-pikiran dangkal dan banal atau rasa dengki dan melankoli.</p>
<p>Banyak pula penyair yang mengagungkan puisi sesakral ayat suci. Puisi dianggap manifestasi ilham dari langit, punya daya dan kuasa yang dahsyat, sehingga—ketika berhadapan dengannya—penyair pun lumpuh-lesi. Puisi digambarkan layaknya makhluk gaib berkekuatan supranatural. Ia datang, merasuki diri penyair, menuntut dinyatakan. Si penyair yang lemah itu cuma perantara bagi puisi yang mengada.  Peran penyair disetarakan dengan dukun prewangan, cenayang, yang sepenuh-penuh menyerahkan diri sebagai kendaraan bagi kekuatan dari luar, yang berjarak, dan bukan bagian dari kekuatannya. Penyair di situ tak ubahnya seorang budak yang, tanpa bisa mengelak, terpaksa melayani kehendak puisi. Pandangan seperti itu sungguh tak lebih dari retorika para pengarang yang terlampau melambung. Tujuannya: meyakinkan orang lain betapa karya yang mereka hasilkan bersumber dari, dan karenanya mengandung, kekuatan agung. Demi tujuan itu mereka telah menafikan, atau menyembunyikan, peran dan kreativitas manusia.</p>
<p>Puisi-puisi Ramon Damora, kesan saya, beranjak dari arah yang berbeda dengan dua pandangan tadi. Seluruh puisi dalam Bulu Mata Susu mengisyaratkan bahwa penulisnya adalah seorang dari deret panjang penyair yang menggubah puisi bagaikan mengubah gerak menjadi tari. Transformasi semacam itu hanya dimungkinkan oleh kinerja kesadaran<span style="font-style: italic;">(1) </span>—tak melulu pikiran, tak cuma perasaan, sebab di sana terlibat pula panca indera, batin, dan naluri. Sebuah totalitas diri yang imbang, padu, dan harmonis, dalam menerima dan memberi.</p>
<p>Dengan kata lain: puisi tidak  hadir dalam wujudnya yang final secara serta-merta, tapi juga tidak mungkin dicipta seutuhnya. Substansi<span style="font-style: italic;">(2)</span> puisi barangkali bisa diibaratkan sebagai spirit, ruh. Dan peran terpenting penyair adalah menangkap ruh itu dan memberinya tubuh. Penubuhan itu menegaskan berlangsungnya ketegangan yang paradoksal: hendak menyatakan seidentik mungkin hal yang tak terbatas, tapi secara tak terhindarkan tindakan itu juga berarti meringkus dan meringkasnya ke dalam bentuk, dengan batas-batas.</p>
<p>Tubuh ke-48 puisi Ramon Damora bisa dibilang bersahaja. Tipografinya tertib, seluruh baris ditulis rata kiri, dengan aliterasi dan asonansi yang menghasilkan ritme dan rima yang berulang dalam irama yang terasa konstan.  Untuk menubuhi puisi-puisinya, Ramon tidak menggunakan wujud benda konkrit atau bunyi-murni, melainkan memilih kata sebagai media utama.</p>
<p>Bisa dikatakan bahwa Ramon mengikuti tradisi penciptaan puisi tertua dan terbesar yang bertahan hingga hari ini, sekaligus menegaskan betapa kata terbukti masih menjadi media terbaik untuk menubuhi puisi. Kata mengungguli media ekspresi lain, sebab pada kata terdapat struktur diadik, susunan dua komponen—yakni konsep dan bunyi—yang saling berkaitan dalam satu bangun. Sedangkan substansi puisi pun bisa diasosiasikan sebagai struktur komponen-komponen abstrak dalam kognisi penyair, identik dengan apa yang dalam semiotik disebut citra-akustik.</p>
<p>Penubuhan atas substansi puisi akan menghasilkan realitas puisi, yang berarti telah terjadi transformasi dari citra akustik ke entitas organik<span style="font-style: italic;">(3)</span>. Dengan demikian puisi bisa dipandang sebagai gejala yang selain dicerap oleh kognisi manusia, juga diproduksi. Jika ditinjau dari sudut si produsen, realitas puisi itu menyatakan bentuk expression yang senantiasa berkorelasi dengan contenu<span style="font-style: italic;">(4)</span>, isi atau konsep tertentu.</p>
<p>Ekspresi Ramon Damora, sebagaimana terbaca melalui 48 puisinya, terbilang unik dan kadang pelik. Keunikan dan kepelikan itu terutama terasa dari ragam kata yang diramunya dalam susunan yang tidak lumrah. Setiap puisi meruapkan kelebatan-kelebatan imaji yang menantang logika kita untuk menerimanya sebagai senarai peristiwa dalam satu momentum: mungkin, namun tidak mudah.</p>
<p><span style="font-style: italic;">saya belum 24 kelam tapi siang telah tiba 2 lewat tuba</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">alarm pulang, lapar yang jalang, jantung jarum sekali</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">peluh, bahan pengawet, airtawamata, detak kaki</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">sungguh saya tak lagi berani cerewet dalam doa</span></p>
<p>Kegemaran Ramon memasukkan kata-kata yang membersitkan kesan lokalitas Melayu, yang banyak menyerap dari Arab, punya andil pula dalam memekatkan formula puisi-puisinya. Dari tiga puisi pertama dalam antologi ini saja, bisa kita deret kata-kata berikut: <span style="font-style: italic;">tahiminyak, dedap, rabb, pindai, nahari, laili, nasab, punca, bangkinang, tugal, jerebu, </span>dan <span style="font-style: italic;">arasy</span>. Tanpa pendampingan kata dan penyusunan frase yang mampu menghasilkan makna, atau setidaknya asosiasi, yang terarah, kehadiran kata-kata seperti itu niscaya akan menjadi kabut dalam benak pembaca dari latar budaya yang bukan seranah.</p>
<p>Kendati masih mungkin, Ramon tentu tak ingin mengganti kata-kata itu dengan yang lain. Sebab, bagi penyair, kata tak melulu perkara logika. Di dalam kata ada ruang, gambar, gerak, suara, dan suasana. Cukup jelas, puisi-puisi Ramon ditulis bukan untuk dipersembahkan kepada pembaca yang malas. Mereka hadir bersama variasi majas dan kias, kadang dengan struktur yang seolah tak teratur, menawarkan petualangan kepada pembaca untuk menjelajah ke medan pemaknaan yang tak seluruhnya terpetakan oleh kebakuan sistem semantik. Dengan cara seperti itu, kemunculan sesekali kata-kata dari luar tutur sehari-hari dapat ditimbang sebagai bagian dari taktik jitu untuk menerbitkan citraan dan citarasa baru.</p>
<p>Pilihan ekspresi seperti itu bukan tanpa risiko. Bagai cahaya yang meniscayakan kehadiran bayang-bayang, puisi-puisi Ramon sekaligus menampakkan dua kemungkinan yang berpunggungan: di satu sisi mereka menunjukkan keberhasilan sebuah upaya menemukan gaya ucap yang khas—suatu capaian penting bagi siapa pun yang bertekun di medan kreativitas—namun, di sisi lain, kehendak menjadi “yang lain”, “yang beda”, secara ironik justru menjadi tirai remang yang menghalangi hasrat berdialog, bertukar informasi demi saling memahami.</p>
<p>Salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk menembus tabir pemaknaan dan pemahaman adalah mencermati hubungan antara realitas puisi dengan substansi puisi. Atau relasi antara ekspresi dengan konsep, gagasan, inspirasi, yang menghidupi ruang puisi. Pada setiap teks, konsep atau apa pun sebutan untuk itu, bisa diketahui lewat konteks. Puisi-pusi Ramon menyediakan cukup banyak penanda yang bisa digunakan untuk mengenali konteksnya. Perhatikan, misalnya, sejumlah kata penanda orang (<span style="font-style: italic;">mak, kau, penyair, ibu, istri, ha &amp; na, Hoesnizar Hood, tukang pos, Dobby, </span>dan banyak lagi), tempat (<span style="font-style: italic;">Batam, Pekanbaru, Muaramahat, dapur, Amsterdam, Den Haag,</span> dan lainnya), waktu (<span style="font-style: italic;">malam, bulan, pagi, sore, senja, sebelum pergi mengaji,</span> dan sebagainya), aktivitas (<span style="font-style: italic;">kupetik setangkai bunga, bertapa, semedi, mengetuk  pintu, masuklah sebentar ke dalam kamar</span>). Dan seterusnya.</p>
<p>Dengan mencermati setiap detail yang menyaran kepada konteks, pembaca dapat  menemukan konstruksi yang menegaskan contenu setiap puisi.  Berdasar itu kita bisa katakan bahwa puisi-puisi Ramon Damora lebih banyak menyuarakan pengalaman personal yang, tentu saja, tak mungkin sepenuhnya bebas dari respon kreatif terhadap masalah-masalah sosial.  Di sana kerap kita temukan suasana liris yang tersusun dari resah, juga gairah, perih yang mengorek liang pada persentuhan orang per orang.<br />
<span style="font-style: italic;">kau akankan saja belumku tak berpembesuk, riang ngilu</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">kau kemarinkan saja besokku yang terkutuk, tuhan tahu</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">sendawakan  saja sungkawaku selepas ceguk, kenyang rabu</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">kau pura-purakan saja perihnya ditusuk, takkan pisau waktu</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">iya-iyakan saja ajukku saat amukmu, celatku pada sulukmu</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">kau untukkan saja badai, kau andaikan peluk, maut ke aku</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">kau bulankan saja rindu di mata pungguk, sajak pun ranau</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">kau akukan saja aku dalam kau yang remuk, siapa cemburu</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">kau sajakan saja aku walau telah reruntuk, akulah kamu</span></p>
<p>Bukan mustahil kesan adanya tirai temaram penghalang pemahaman itu muncul sebagai efek pemiuhan imaji. Diksi dan pola sintaksis Ramon rupanya cukup efektif bagi penggandaan makna, menyebabkan puisinya terasa kaya dengan kelindan taswir dan tafsir. Bila memasukinya, pembaca yang tak punya nyali petualang dan hanya menginginkan jalan lempang untuk bergegas ke satu tujuan sangat mungkin akan tersendat, bahkan tersesat. Tapi, sebaiknya, mereka yang membuka diri bagi setiap detail—betapapun ganjil—akan menemu begitu banyak ketegangan dan kejutan yang mengasyikkan.</p>
<p>Ditelisik dari hubungan realitas puisi dengan substansi puisi, agaknya Ramon telah melampaui tahap dasar, yang dalam semiotik struktural Barthes disebut sistem primer, yakni ketika tanda dicerap kali pertama. Tahap ini hanya menghasilkan denotasi, pemaknaan yang umum diterima dalam konvensi dasar suatu masyarakat. Lebih dari itu, teks dalam antologi ini mengisyaratkan terjadinya lompatan sampai ke tahap kedua, ke sistem sekunder, proses lanjutan yang sekaligus membiakkan bentuk ekspresi maupun konsep puisi. Karena itu kerap kita dapati proses metabahasa, satu konsep yang memiliki beragam ekspresi berbeda. Juga kita temui banyak konotasi, satu ekspresi yang mengandung lebih dari satu konsep.</p>
<p><span style="font-style: italic;">dengkurmu adalah tabiat puisi</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">memejam di luar gemuruh di dalam</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">izinkan kusingkirkan dahan hujan pagi</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">yang jatuh ke rumput mimpi, bibirmu diam</span><br style="font-style: italic;" /><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">geletar jemarimu: kerling nakal alenia</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">lima baris dara menggoda empat bait soneta</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">bolehkah kukarang selarik lili paris di  kelingkingmu</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">dan berdoa agar pada setiap kertap kita bertemu</span></p>
<p>Lebih jauh, kerja penyair dalam menubuhi puisi sesungguhnya tak ditentukan oleh visi tentang bentuk atau struktur, tapi lebih dipengaruhi oleh hasrat pemaknaan. Asumsi ini akan menemukan relevansinya jika kita hadapi puisi sebagai hasil tafsiran atas tanda. Dalam semiotik pragmatik Pierce<span style="font-style: italic;">(5)</span>, tanda tidak dilihat sebagai suatu struktur yang tergambar, melainkan suatu proses semiosis—pemaknaan tiga tahap secara kognitif yang berangkat dari sesuatu yang terpikir atau terindera: penyair mencerap suatu representamen, wujud luar tanda yang berhubungan langsung dengan inderanya; lantas penyair merujuk kepada obyek, konsep dalam kognisinya dan mewakili representamen itu; dan akhirnya penyair melakukan interpretan, penafsiran lanjut setelah representamen terkait dengan obyek.</p>
<p>Meski setiap realitas puisi dicipta manusia dari sistem tanda, kemudian keseluruhannya pun bisa disebut tanda, janganlah kita tak lupa bahwa puisi juga hasil penafsiran atas sejumlah tanda. Dengan demikian, penyair adalah kreator dan pada saat yang bersamaan juga interpreter. Dalam pernyataan Ramon Damora: penyair (adalah seorang yang) <span style="font-style: italic;">duduk cangkungi loteng ungu/ raba getir pungguk dikutuk rindu</span>.</p>
<p>Tak mengherankan jika penempatan diri sebagai penafsir itu justru membuat ungkapan Ramon lebih ambigu dibanding karya sejumlah penyair lain seangkatannya yang masih tertenung oleh keasyikan mendeskripsikan benda-benda dengan penguasaan sintaksis yang memprihatinkan tapi berdalih licentia poetica. Puisi-puisi Ramon lahir dari penafsiran demi penafsiran. Dalam setiap penafsiran selalu terkandung kesangsian, seperti setiap kali kita menghadapi teka-teki.</p>
<p><span style="font-style: italic;">dikaukah itu atau kabut yang menyisih ke sebalik lamun daun</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">sebab subuh hanya menuntun sembab embun</span><br style="font-style: italic;" /><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">dikaukah itu atau ingkar fajar pada beranda yang selalu setia</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">menunggu kupu-kupu itu membawa tamu dan debar bunga</span><br style="font-style: italic;" /><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">dikaukah itu atau liang koklea yang mengubur lirih suara</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;">sedang aku masih tertatih mendengar maut membisikkan cinta</span><br style="font-style: italic;" /><br />
Memang, wujud luar puisi-puisi Ramon boleh dibilang bersahaja. Tapi, ternyata, begitu kompleks kehidupan di dalamnya. Bagi Ramon, puisi punya tabiat seperti seseorang yang sedang mendengkur: memejam di luar, gemuruh di dalam. Citraan perihal tubuh yang istirah, ruh yang gelisah. Dan yang gelisah itu adalah waktu, gerak hidup, selalu memperbarui diri seperti kalender yang mengelupasi kulit tumit. Hidup, dalam tafsiran Ramon, adalah medan pengembaraan. Deret lambang di antara awalan dan akhiran, misteri, ruang yang mesti diarungi sendiri, dengan segenap harap, tapi juga rela jika ternyata sia-sia. Bukankah kenangan, pun air mata, fana?</p>
<p><span style="font-style: italic;">setiap hari kurebahkan bahu pagi</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> setinggi pipimu ranggi</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> lalu kuceritakan kelindan sarang</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> sangkan paran</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> membisikkan sebuah teka-teki</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> pengembara pergi</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> yang tak berhenti</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> mencari peti mati</span><br style="font-style: italic;" /><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> kelak jika aku luruh</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> dan sangsai</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> hanya suaramu</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> terdengar melambai</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> memanggilku  di antara kerikil</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> ranting-ranting cemara</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> mengajak selusuh gigil</span><br style="font-style: italic;" /><span style="font-style: italic;"> pulang ke airmata</span></p>
<p>Banyak bagian dari Bulu Mata Susu mengingatkan tentang hal-hal yang fana, dan berusaha mengawetkannya. Di banyak bagian isi buku ini pula, mungkin, pembaca mengendus aroma dari puisi-puisi anggitan penyair lain. Tapi, adakah yang sungguh asli, murni, di zaman kita kini? Ramon Damora bukanlah pertapa di punggung gunung. Ia seorang warga penghuni sebuah zona pasar bebas, bekerja di media massa, setiap waktu didentur pengaruh dari pelbagai penjuru. Jika puisi-puisinya bisa ditimbang untuk mengetahui sikapnya terhadap beragam pengaruh itu, jelas ia tak sekadar meniru. Ia menerima, mencerna, membiarkannya meresap dan mengendap ke ruang-ruang kesadaran, lalu pelahan dibangkitkan oleh waktu, membentuk dirinya menjadi penyair baru.</p>
<p>Semoga Ramon Damora bukan pengikut jejak para sastrawan “peloncat batu”, yang memperlakukan sastra sebagai batu ambalan—diinjak dan ditinggalkan demi mencapai tujuan yang lebih memabukkan.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Adelaide-Jakarta, Oktober 2008.</span></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>(1) Berdasar pengalaman kreatifnya, Amy Lowell menyatakan bahwa puisi hanya mungkin ditemui ketika mereka menyentuh kesadaran. Dan kesadaran itu menjadikan seorang penyair lebih dari sekadar antena radio yang sanggup menerima pelbagai pesan melalui gelombang tertentu, sebab ia juga sanggup mengubah pesan-pesan itu dalam pola kata-kata.</p>
<p>(2) Merujuk pendapat Immanuel Kant, substansi yang dimaksud adalah thing in itself, benda  pada dirinya sendiri; bukan entitas konkrit yang fisikal atau benda yang bisa diindera.</p>
<p>(3) Acap kali puisi dipersepsi sebagai sebuah “dunia”, juga “anak batin” atau “anak kesunyian” penyair. Rendra, misalnya, penah mengatakan bahwa puisi, begitu selesai dicipta, punya nasib sendiri. Nasib yang tak selamanya dapat diatur dan ditentukan oleh penciptanya. Pengandaian-pengandaian itu menegaskan betapa puisi begitu organik, hidup, dinamis.</p>
<p>(4) Roland Barthes menggunakan istilah expression dan contenu untuk mengganti konsep de Saussure tentang signifiant dan signifie. Hubungan antara expression dan contenu, menurutnya, tejadi dalam kognisi manusia melalui dua tahap: tahap dasar dan lanjutan, yang disebutnya pula sebagai sistem primer dan sistem sekunder.</p>
<p>(5) Semiotik model Charles Sanders Pierce dinamai “semiotik pragmatik” karena bertolak dari representamen, wujud luar tanda yang dapat diindera oleh manusia. Berbeda dengan Barthes, Pierce melihat tanda sebagai proses semiosis, pemaknaan bertahap yang tak berhenti pada perujukan tapi berlanjut ke tindak penafsiran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ramondamora.com/mereka-menyebut-roland-barthes-dalam-sajak-saya/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
