Sepasang janin menunggu dilahirkan. Yang pertama ada di dalam rahim istri saya. Hasil USG sih katanya laki-laki. Wow. Kalau benar, berarti saya identik dengan bibit jantan. Pasalnya, dua anak saya sebelumnya juga lelaki. Ayo, para pria, kita bongkar dunia!
“Janin” kedua adalah Bulu Mata Susu. Ya, ini buku puisi pertama saya yang bakal diterbitkan dan diluncurkan oleh Yayasan Sagang, bulan Desember mendatang. Hampir rampung. Saya dan Eka Kurniawan intens berdiskusi soal desain cover.
Dari ide seperti ini:
hingga bermetamorfosis menjadi ini:
Sebuah diskusi yang belum final. Masih banyak kemungkinan lain yang bisa dielaborasi –meminjam istilah Mas Eka. Tapi, jujur saja, saya sudah jatuh hati dengan rancangan terakhir yang bernada retro dan agak surealis ini. Ada usul?



Saya sama bung Ramon sangat salut, juga sama hendrianto alias hedri anak rahman, bisa menjadi orang-orang sukses. tetapi saya sebagai sahabat juga berpesan janga menjadi orang yang angku dan sombong, karena dua-duanya di benci Allah.swt, karena kekayaan dan jabatan amanah dari Allah.SWT trims adi pasisia
kalau bung ramon, baca pesan saya ini, pasti bakal tau dengan keseharian saya, yaitu berprofesi sebagai wartawan free land di berbagai media , saya juga berprofesi sebagai seorang guru, yaitu perkerjaan, kalau ditanya orang, apa yang telah anda perbuat untuk negara, dan saya akan menjawab menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya, trim Adi pasisia
kalau soal p[uisi, saya juga suka, dan banyak puisi saya yang belum di publikasikan, seperti judul, cuma kayalan
terimakasih uda adi. insyaallah sya tidak akan sombong. angkuh hanya akan membuat kita jauh dari tuhan, benar kan uda? ayo, publikasikan puisinya di blog uda adi yang bernas itu. saya tunggu ya.
Selamat ya bang untuk calon putra ketiga dan Bulu Mata Susu nya. Semoga kalau sudah launching bukunya, saya bisa mendapatkannya (ntar dijual bebas di Gramed nggak ?)
insyaallah mbak ani…
Sepertinya kesetan-setanan atau kemerah-merahan deh …
Oh … Puisi ini Kesetanan
[...] mencoba beberapa kemungkinan, ini merupakan desain yang akhirnya di-approve oleh sang penyair. Di blog Ramon Damora, bisa dilihat dua versi sebelumnya, sebelum berakhir dengan desain ini. Sila menunggu bukunya di [...]
aku lebih suka desain mas eka yang pertama yang bernuansa putih…kelihatan lebih mewakili…daripada yang terakhir yang kemerahan…agak terlihat suram dan sureal…agak keiblisan…