Dikutip dari buku Bulu Mata Susu, Yayasan Sagang, 2008:

Ramon Damora lahir di Muara Mahat, Kampar, 2 April 1978. Ia tumbuh dan besar di Asrama Pancasila, salah satu ”lingkungan kolong” yang dikenal berkarakter keras di Pekanbaru, Riau. Ayahandanya, Jamaris, mengabdi sebagai pegawai Pembinaan Mental (Bintal) Korem 031 Wirabima dan menjadi pengurus musala yang terletak di areal markas komando resor militer Riau tersebut.

Sejak kecil, Ramon sering dibawa orangtuanya ke kantor. Ia selalu mendengar lidah bapaknya tak pernah fasih melafazkan makhraj huruf setiap bertugas mengumandangkan azan di musala itu. Setamat sekolah dasar di SD Seruni, ia didaftarkan orangtuanya masuk SMP 5 dan lulus. Tapi baru menginjak kelas pertama, Ramon minta dimasukkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Pekanbaru. “Aku ingin biar aku saja kelak yang azan di musala itu, bukan bapak,” ujarnya.

Dari MTsN ia lolos seleksi Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Padang Panjang, Sumatera Barat. Sebuah proyek sekolah unggulan bidang agama milik Depag RI yang ”gagal” dan bubar tahun 1996. Tahun itu, seluruh alumnus MAPK mendapatkan ”bonus” dari pemerintah: bebas masuk ke IAIN mana saja seluruh Indonesia, di fakultas apapun, tanpa tes. Ramon ingin sekali melanjutkan kuliah di Pulau Jawa. Tapi, ”ambil yang pasti-pasti saja. Kita tak punya cukup biaya,” kata ibunya.

Dengan masygul, ia pun ”terpaksa” balik kucing ke Pekanbaru dan memilih Institut Agama Islam Negeri (kini Universitas Islam Negeri) Sultan Syarif Qasim, mengambil jurusan yang nyaris tak pernah diminati calon mahasiswa lain: Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum, Fakultas Syariah. Dan, itulah kemudian yang menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya: IAIN Susqa-lah, ternyata, yang menempa bakat kreatifnya menulis dan berkesenian. Ramon tunak bergiat di surat kabar dan teater kampus saat itu.

Tahun 2000, ia bergabung bersama Riau Pos Grup sebagai jurnalis untuk setahun kemudian ditugaskan ke Pulau Batam, Kepri. Hingga kini, Ramon telah mempublikasikan sajak-sajaknya di Kompas, Koran Tempo, Republika, Jawa Pos, Riau Pos, Batam Pos, Majalah Sagang, Majalah Suara, Majalah Sastra 12, dan delapan buku antologi bersama. Meresitalkan puisi serta mementaskan sejumlah naskah teater di Pekanbaru, Lampung, Yogyakarta, dan Jakarta. Melakukan perjalanan dan liputan kebudayaan ke Padang, Medan, Bandung, Pontianak, Singapura, Johor, Malaka, Kuala Lumpur, dan Amsterdam, Belanda.

Sejak Januari 2008, Ramon bekerja sebagai Pimred Harian Posmetro di Batam. Di bandar yang riuh ini pula, ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya di Perumahan Anggrek Mas 2, Blok C3 nomor 32, Batam Center, Batam, Kepri.