UNIK. Mungkin itulah yang bisa saya ungkapkan untuk teman saya bernama Ramon Damora. Imajinasi yang tinggi, tampaknya diturunkan oleh sang guru puisi Riau almarhum Idrus Tintin kepada anak muridnya bernama Ramon Damora. Dalam kumpulan puisi ‘’Bulu Mata Susu’’, baitan kata yang dituangkan Ramon penuh dengan imajinasi yang memiliki nilai-nilai yang tinggi.
Saya mengutip komentar Sitok Srengenge, Sastrawan, Direktur Utan Kayu International Literary Biennale, Jakarta, yang termuat di blognya si pengarang ‘’Bulu Mata Susu’’ ; Ramon Damora, telah menyerahkan sebagian dirinya kepada kata. Lebih dari sekadar penanda yang penting perjalanan penyairnya, puisi-puisi yang terangkum dalam buku pertama lazim menunjukkan kecamuk yang kuat antara kehendak bertaut dengan, dan hasrat membebaskan diri dari, kemapanan tradisi.
Yang pertama bisa dibaca sebagai langkah peneguhan, dengan masuk ke arus utama, mengikuti konvensi, untuk menjadi bagian dari sistem nilai yang terakui. Seluruh Bulu Mata Susu ini mengisyaratkan bahwa penulisnya adalah seorang dari deret panjang penyair yang menggubah puisi bagaikan mengubah gerak menjadi tari. Transformasi semacam itu hanya dimungkinkan oleh kinerja kesadaran —tak melulu pikiran, tak cuma perasaan, sebab di sana terlibat pula panca indera, batin, dan naluri.
Begitulah si Ramon Damora, seorang ‘’pengelana’’ kata, yang terlahir dari sebuah kampung yang sudah tenggelam dan ditenggelamkan oleh pesatnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kotopanjang, Riau yang juga berakibat tenggelamnya kampung tempat kelahiran Ramon. Simbol kenangan Ramon terhadap kampung halamannya dituangkan dalam sebuah puisi; Muara Mahat.
sungai terpejam, lambai menajam
jatuh berderai ke dendam dalam
hutan titian, tuhan nan kaya, mengajal bara
masih awak tugal jejak puan
punai yang tumpah ke tanah
sebab jerebu merah
ada kampung berinsang patin
kami yang selalu sepasang pengantin
entah di pusar muara atau dasar belanga
arus apakah aus
aduh malaikat yang mengarak rakit di arasy air
biarkan tumbang, kasihlah banjir…
Dalam kumpulan puisi Bulu Mata Susu, si pengarang masih menggunakan paradok alamiah dan hewan, seperti hutan, punai. Dan simbol-simbol relegius, seperti Malaikat. Sebagai penyair, Ramon pandai sekali merangkai puisinya dengan tema-tema ironi. Karena ironi dalam sebuah puisi bila tidak hati-hati memilih puncak pembalik keadaan dari penceritaan yang sebelumya dianggap dan difahami sesuatu yang manis, baik, agung atau adiluhung, untuk kemudian dijungkirbalikkan menjadi yang sebaliknya seperti pahit, pedih, kotor, palsu, rendah atau nista sekalipun, tentu tidaklah mudah.
Ramon, tampaknya meramu puisinya dengan parodi yang menghentak jiwa si pembaca, namun akan memberi efek yang akan membekas lebih lama dalam fikiran pembaca. Paradok yang menghentak, tampaknya sudah menjadi karakter si pengarang. Begitu juga ketika dirinya berada di atas panggung untuk membacakan puisi, sangat menghentak. Gaya-gaya seperti ini, mengingatkan saya kembali kepada gurunya Idrus Tintin, yang cakap, koreograf, menari-nari ketika berada di atas panggung. Tidak dingin di atas panggung, seperti kebanyakan penyair lain menjadi ruh-ruh, ciri khas, trust-nya, sehingga terbawa juga dalam beberapa judul kumpulan sajaknya.
Selain itu ada juga beberapa judul puisi Bulu Mata Susu juga berhasil menghilangkan paradok, bahkan melahirkan ruh percintaan; seperti sajak Pada Soneta Tidurmu, Buta, yang masih berkutat soal cinta sebagai tema sentral yang kental dengan kecerdikan Ramon membungkusnya bersama citraan suasana penghematan kata dalam sebuah situasi yang menarik.
dengkurmu adalah tabiat puisi
memejam di luar gemuruh di dalam
izinkan kusingkirkan dahan ujan pagi
yang jatuh ke rumput mimpi, bibirmu diam
Pada penghujung tulisan ini, saya ingin menjelaskan bahwa, Ramon merupakan seorang penyair yang ‘keletah’ melakukan percobaan. Potensi Ramon dan karya-karyanya saya kira cukup menjanjikan. Ramon berani melepaskan ikatan bayang-bayang penyair pendahulunya yang saya rasakan sangat terasa sekali pada penyajian karya.
Seorang penyair mengungkapkan, bayang-bayang pendahulu bagaimanapun tentu tidak haram untuk dimunculkan pada sajak-sajak seseorang, karena kita hidup dalam lintasan sejarah dan interaksi yang ketat, akan tetapi bila hal itu dipakai terlalu banyak bukan tidak mungkin kita terjebak ke dalam sarang bersangkar emas milik orang lain yang kita pakai untuk memenjara diri kita sendiri bukan?
Selamat Ramon!
